Selain kemampuan kognitif siswa, mental dan karakter juga wajib dikembangkan untuk mencetak siswa yang unggul dan berdaya saing di masyarakat. Dalam mengembangkan pendidikan mental dan karakter siswa diperlukan sebuah kolaborasi yang utuh dari beberapa aspek yang paling berperan dalam pembentukannya. Selain kompetensi pegagogik dan profesional guru yang wajib mumpuni, metodologi dalam mengajar juga harus disesuaikan dengan perkembangan siswa guna mencapai tujuan tersebut.
Itulah mengapa Guru perlu sebuah pembelajaran yang “up to date” agar mampu efektif dalam mendidik di tengah perkembangan zaman yang luar biasa mempengaruhi pola pikir siswa. Bertempat di Ruang PKB, SMK Negeri 1 Kota Tangerang Selatan menyelenggarakan Mental Coaching Character (MC2) bagi para guru kemarin, rabu 18 Nopember 2015. MC2 yang dihadiri oleh 25 guru di buka langsung oleh kepala sekolah tepat pukul 14.00 wib.
Anrio Marfizal, seorang Psikolog sekaligus Founder dari Mental Coaching Character turun langsung bertindak sebagai trainner dalam kegiatan MC2 ini. Dengan gaya yang tegas, lugas, dan bersuara lantang, kak Rio, sapaan akrab Anrio Marfizal, langsung memperkenalkan diri dihadapan perserta training, selepas diberi kesempatan untuk menyampaikan materi.
Kak Rio, Sosok muda, yang terlihat santai namun enerjik dan gaul ini, tidak terlihat lelah sedikitpun membakar semangat para guru dalam trainingnya kali ini. Dari menit pertama hingga akhir, kurang lebih 2 jam, kak rio selalu bersemangat menyampaikan materinya yang diselingi candaan ringan yang mengibur. Semua guru seolah terhipnotis mengikuti dan mencermati secara detil alur training kali ini hingga selesai.
Yang menarik dalam training ini adalah, semua guru baik laki-laki maupun perempuan diminta untuk mengangkat kursi yang di dudukinya dengan 1 jari telunjuk saja. Trainer mencotohkan terlebih dahulu, terlihat berat nampaknya, namun diluar dugaan banyak guru yang mampu untuk mengikuti langkah kak rio tersebut. Kursi dapat diangkat oleh mayoritas guru sampai dengan badan kursi sejajar dengan kepala masing-masing peserta. Beberapa guru tidak sanggup, dan ada juga yang menyerah sebelum mencoba.
Trainer sesaat kemudian meminta kepada peserta untuk menilai seberapa berat kursi tersebut saat diangkat, dengan skala 1 (sangat ringan) sampai dengan angka 10 (sangat berat). munculah angka yang sangat bervariasi, artinya definisi berat dan ringan adalah relatif tergantung orang yang mengangkat, walaupun dengan beban (kursi) yang sama.
Sang trainer menganalogikan simulasi tersebut dalam kehidupan nyata yang realistis. Dalam kesimpulannya, tranier mengatakan bahwa berat ringannya suatu masalah yang dihadapi seseorang bergantung dari seberapa tangguh orang tersebut mengasah/meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi masalah, berat ringan suatu masalah bukan berasal dari masalah itu sendiri.
Lebih jauh sang trainer mencontohkan, bahwa masalah berat yang kerap dihadapi para guru seperti kenakalan anak, kondisi kelas yang kurang kondusif, dan sulitnya anak menerima materi, pada dasarnya masalah yang dirasa, mungkin, berat itu bukan karena siswanya, akan tetapi dari peran guru yang kurang siap dalam menghadapi masalah. Jika siap maka semua masalah-masalah yang sering dihadapi guru tersebut akan terasa lebih ringan.
Tepat pukul 16.00, trainer menutup trainingnya dengan kalimat Allah QS 2:286 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Dengan pendekatan psikologis yang mendalam, maka diharapkan output dari training ini bagi guru adalah mampu mengajar dengan pendekatan yang terbaik dengan siswa dengan berawal dari kesiapan diri yang matang dan keteladanan.(humas/19.11.2015)






















