Sumber: Tangsel Pos Edisi Kamis, 3 September 2015, Halaman 2.
Siswa Jurusan Tataboga Harus Mahir Masak
Serpong – Memasak bukanlah hal mudah, utamanya bagi kalangan remaja. Sebab di usia 15-17, mereka lebih memilih makanan cepat saji dibandingkan dengan memasak sendiri. Maka tidak aneh rasanya remaja sekarang yang tidak bisa memasak dan membantu orang tua. Apalagi membuka usaha dibidang kuliner.
Diantara kemustahilan-kemustahilan remaja itu, siswa siswi SMK Negeri 1 Tangsel menunjukkan bahwa usia remaja harus bisa dimaksimalkan. Baik untuk sekedar masak-memasak, maupun kegiatan positif lainnya.
Dibawah bendera patiseri, hampir semua siswa jurusan patiseri Tataboga sekolah itu bisa memasak dengan sempurna. Utamanya membuat hidangan pencuci mulut. Semua itu tidak lepas dari sang maestro masak, Irine Budi Habsari. Lulusan Universitas Negeri Semarang yang pernah bekerja di Tabloid Koki selama 11 tahun lamanya itu merupakan guru Tataboga disekolah ini.
Ketika ditemui di Lab. Patiseri, Irine dan siswa-siswinya sedang memasak hidangan pembuka. Yaitu puding panas dan puding dingin. Pada kesempatan itu, terdapat 10 kelompok yang membuat masakan itu. Tangsel Pos sempat mencicipi masakan para siswa ini. Dan hasilnya memang harus diakui sangatlah nikmat dan enak untuk kue kreasi siswa.
Diakui oleh irine, 80 persen siswa jurusan Tataboga (Patiseri) melakukan praktek memasak setelah mendapatkan teori.
“Semoga pengalaman serta ilmu yang saya dapatkan sebelumnya, bisa menular ke adik-adik SMKN 1 Tangsel. Mereka juga kelak saya harap bisa mengaplikasikan ilmunya sesuai dengan passionnya.”, tutur irine.
Lebih lanjut Irine juga mengharapkan dengan praktek yang lebih membuat siswa-siswi bereksperimen terhadap apa yang dimasaknya. “Harapan saya siswa-siswi bisa berkreasi meracik menu dan resep untuk apapun yang dimasak. Saya memberi kebebasan dan keleluasaan pada mereka. Jika hasilnya bagus dan bisa dikembangkan dan jika gagal kita akan belajar lagi.”, ungkapnya.
Diakui olehnya, hasil masakan siswa bisa dijula dilingkungan sekolah. Harga yang ditawarkan tentu saja sangat terjangkau. Hanya Rp. 1000 – 5000. Sedangkan hasil penjualannya akan dimasukkan ke kas mereka, selanjutnya akan dimanfaatkan kembali. (cr5/sam)
Sumber Online: http://tangselpos.co.id/smkn-1-tangsel-utamakan-praktek/



