{"id":11132,"date":"2024-11-28T15:20:49","date_gmt":"2024-11-28T08:20:49","guid":{"rendered":"https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/?p=11132"},"modified":"2024-11-28T15:58:38","modified_gmt":"2024-11-28T08:58:38","slug":"membentuk-disiplin-positif-siswa-melalui-praktik-segitiga-restitusi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/?p=11132","title":{"rendered":"Membentuk Disiplin Positif Siswa Melalui Praktik Segitiga Restitusi"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"710\" src=\"https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/nestan-segitiga-restitusi20241128132033.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-11133\" srcset=\"https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/nestan-segitiga-restitusi20241128132033.png 800w, https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/nestan-segitiga-restitusi20241128132033-300x266.png 300w, https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/wp-content\/uploads\/2024\/11\/nestan-segitiga-restitusi20241128132033-768x682.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Seperti dikutip dari&nbsp;<em>Bunga Rampai tentang Paradigma Merdeka Belajar dan Pembelajaran Bahasa Jerman Pascapandemi&nbsp;<\/em>terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia (2024:128\u2014129), dimana dijelaskan bahwa Segitiga Restitusi adalah sebuah strategi yang dapat dilakukan sebagai proses menciptakan kondisi menuntun siswa untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan. Dengan pendekatan hal tersebut, diharapkan siswa yang berbuat salah akan diajak refleksi oleh guru. Disana akan terjadi dialog dengan pertanyaan-pertanyaan guru kepada murid tentang hal yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka menjadi pribadi lebih baik dan menghargai dirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Sehingga dengan penerapan praktik segitiga restitusi, siswa diharapkan dapat memperbaiki kesalahan yang telah dilakukannya dan bisa kembali ke kelompok mereka dalam kondisi sudah memiliki karakter yang kuat. Bahkan lebih dari itu pula, penerapan praktik segitiga restitusi disekolah mampu mengurangi tindakan-tindakan guru dalam memberikan hukuman, menghakimi ataupun tindakan lain yang justru dapat berdampak negatif bagi peserta didik.<\/p>\n\n\n\n<p>Praktik segitiga restitusi dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk&nbsp;<strong>disiplin positif<\/strong>, dengan memulihkan diri dari kesalahan menjadi bermakna dan memiliki tujuan yang jelas. Fokus kepada cara mereka menghargai nilai-nilai kebaikan yang diyakini, bukan kepada perilaku untuk menyenangkan orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Praktik segitia restitusi dapat membantu siswa jujur pada dirinya sendiri dan mengevaluasi dampak dari kesalahan yang dilakukan. Restitusi memberikan penawaran bukan paksaan. Sangat penting bagi guru menciptakan kondisi yang membuat siswa bersedia menyelesaikan masalahnya dan berbuat lebih baik lagi. Guru dapat menggunakan kalimat seperti &#8220;Semua orang pasti pernah berbuat salah&#8221;, bukan menyudutkan dengan memperjelas kesalahannya. Seperti kita ketahui bahwa ada 3 (tiga) langkah pada segitiga restitusi, yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan. Berikut ini salah satu contoh dialog penerapan praktik segitiga restitusi di SMK Negeri 1 Kota Tangerang Selatan.<\/p>\n\n\n\n<p>Skenario dilatarbelakangi saat Pak Hendar guru pembina kedisiplinan bersama guru lainnya melaksanakan program Nestan Pagi Ceria \u201cSenyum, Sapa, Salam, Doa dan Motivasi &#8211; 3S-DM\u201d dengan menyambut kedatangan para siswa digerbang. Disana terjadi interaksi guru dang siswa nya dengan diawali senyuman, salam, juga guru memberikan doa dan motivasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Waktu sudah berjalan hingga jam. 07.15 WIB, ada siswa yang berjalan santai meskipun terlambat, siswa tersebut sudah berulang kali terlambat datang dengan bermacam-macam alasan bergantian. Kemudian Pak Hendar, mendekati siswa tersebut dan merangkul nya kemudian mengajak berbincang-bincang disuatu tempat.<\/p>\n\n\n\n<p>Guru : assalamu\u2019alaikum ..nak<\/p>\n\n\n\n<p>Siswa : Wa\u2019alaikumsalam<\/p>\n\n\n\n<p>Guru : bagaimana kabar mu pagi ini nak<\/p>\n\n\n\n<p>Siswa : Alhamdulillah pak<\/p>\n\n\n\n<p>Guru : Sudah sarapan Blom<\/p>\n\n\n\n<p>Siswa : Alhamdulillah ..sudah pak<\/p>\n\n\n\n<p>Guru : oya..Alhamdulillah ..ya (jeda sebentar).. Kamu tahu gak kenapa kamu bapak ajak untuk ngobrol dengan kamu disini<\/p>\n\n\n\n<p>Siswa : iya pak,.. mungkin karena saya sering telat pak<\/p>\n\n\n\n<p>Guru : Alhamduliiah klo kamu disedikit memahami<\/p>\n\n\n\n<p>Siswa : iya pak ..maafkan saya pak<\/p>\n\n\n\n<p>Guru : iya ..gpp ,.. Cuma klo bapak boleh tahu, emang knapa kamu kok sering terlambat datang ke sekolah, ada apa ,..siapa tau bapak bisa membantu..agar kamu bisa rajin disiplin dan datang tepat waktu, gk terlambat lagi..<\/p>\n\n\n\n<p>Siswa: iya bapak ..trmksh atas perhatiannya, mohon maaf pak, bangun nya kesiangan karena tidurnya selalu larut malam.<\/p>\n\n\n\n<p>Guru : oh gt,..bapak turut prihatin dengan kebiasaan kamu tidur larut malam, sehingga waktu tidurmu berkurang dan jadi bangun kesiangan. Itu yang membuat kamu terlambat terus ya kan<\/p>\n\n\n\n<p>Siswa : iya pak<\/p>\n\n\n\n<p>Guru :kamu tentu tahu kalau datang ke sekolah mepet waktu, akibatnya terburu2, sehingga saat dikelas kamu gk fokus jadinya ,.. klo seperti itu terus menerus maka kamu yg akan rugi. Seharian belajar tdk efektif belum lagi teman2 yang sudah siap belajar, terganggu oleh kedatangan kamu tadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Siswa : iya Pak,..mhn maaf<\/p>\n\n\n\n<p>Guru : bagaimana dengan kesepakatan kelas dan keyakinan kelas yang ada dikelas kamu<\/p>\n\n\n\n<p>Siswa : iya pak, tdk sesuai dengan keyakinan kelas dan saya telah melanggar nya pak, sy telah mengganggu kenyamanan teman2 saat belajar.<\/p>\n\n\n\n<p>Guru : baik,..kalau sperti itu kamu sudah memahami nya bagus itu,.. Cuma bagaimana nih memperbaikinya siswa : Baik pak, Saya akan memperbaikinya dengan datang ke sekolah lebih awal lagi dan tidak terlambat<\/p>\n\n\n\n<p>Guru : Alhamdulillah, ..kamu sudah belajar dari kekhilafan kamu selama ini,.smoga upaya mu berhasil dengan datang lebih awal .. kerenn<\/p>\n\n\n\n<p>Siswa : iya Pak<\/p>\n\n\n\n<p>Guru : dan bapak doakan kamu suskses dapat meraih cita-cita yang kamu inginkan, dan orang tua kamu bangga dengan mu<\/p>\n\n\n\n<p>siswa : iya\u2026Aamiin ya Allah, trimksh doa dan motivasi nya pak<\/p>\n\n\n\n<p>Guru : iya..sama-sama.. tetap semangat<\/p>\n\n\n\n<p>siswa : trimksh pak<\/p>\n\n\n\n<p>Guru ; baik,..silakan masuk ke kelas mu<\/p>\n\n\n\n<p>siswa : baik pak trmksh..Assalamu\u2019alaikum<\/p>\n\n\n\n<p>Guru : wa\u2019alaikumsalam<\/p>\n\n\n\n<p>Demikian sebagai contoh percakapab praktik segitiga restitusi di sekolah, didalam percakapan tersebut mengikuti langkah-langkah dari segitiga restitusi yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan. Mengenai kata-kata atau kalimat yang ada dapat disesuaikan dengan kondisi nyata kejadian masing-masing. Yang terpenting adalah langkah-langkah dari segitiga restitusi berjalan dengan baik dan efektif. Semoga tulisan ini bermanfaat, terima kasih <\/p>\n\n\n\n<p>Abdul Marta Nurdin (Kepala Sekolah)<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seperti dikutip dari&nbsp;Bunga Rampai tentang Paradigma Merdeka Belajar dan Pembelajaran Bahasa Jerman Pascapandemi&nbsp;terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia (2024:128\u2014129), dimana dijelaskan bahwa Segitiga Restitusi adalah sebuah strategi yang dapat dilakukan sebagai proses menciptakan kondisi menuntun siswa untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan. Dengan pendekatan hal tersebut, diharapkan siswa yang berbuat salah akan diajak refleksi oleh guru. &hellip; <a href=\"https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/?p=11132\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-11132","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11132","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11132"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11132\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11137,"href":"https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11132\/revisions\/11137"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11132"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11132"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn1tangsel.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11132"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}